Review Wonder Woman, James Cameron: Film yang Dibesar-besarkan
Berita

Review Wonder Woman, James Cameron: Film yang Dibesar-besarkan

Image: cine.news

Wonder Woman merupakan film bergenre superheroes yang diproduksi oleh DC Comics. Meskipun bukan superheroes wanita pertama yang hadir di layar perak, namun Wonder Woman berhasil menarik minat para penonton saat penayangannya.

Rilis pada 2 Juni 2017 di Amerika Serikat, Wonder Woman mempercayakan kursi sutradara kepada Patty Jenkins, yang juga merupakan sutradara perempuan. Selain itu, film ini juga turut dibintangi oleh aktris cantik berdarah Israel, Gal Gadot.

*Baca juga: 22 Fakta Gal Gadot yang Tidak Diketahui Banyak Orang

Walaupun sempat frustasi dengan karirnya di Hollywood. Maka lewat film ini, Gal Gadot berhasil membuktikan bahwa ia layak bersaing di panggung hiburan kancah international. Dan, oleh sebab itu, mungkin kita seharusnya turut mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh Patty Jenkins dan Gal Gadot terhadap film ini.

Selain sukses dari segi pendapatan komersial, Wonder Woman juga sukses memukau banyak kritikus dunia. Pasalnya, di website agregator Rottentomatoes, film yang berbudget US 150 juta dollar ini berhasil mendapatkan nilai 92 persen, serta berhasil mengumpulkan total 333 ulasan, yang diantaranya 306 ulasan memberikan nilai positif, sementara hanya 27 saja yang mengaku tidak suka dengan film ini.

Bahkan, tidak sedikit kritikus yang mengakui bahwa Wonder Woman merupakan film superhero terbaik DC, setelah trilogy Batman yang dinahkodai oleh Christopher Nolan.

*Baca juga: Ini Dia! 11 Perubahan Kostum Batman Dari Masa ke Masa

Adapun Bintang juga berani menyebutkan bahwa film Wonder Women rasanya lebih baik dan realistis ketimbang beberapa film superheroes milik Marvel. Dalam artian, Wonder Woman tidak berlebihan, Dari segi cerita, alur, aksi maupun akting.

Kendati demikian, Wonder Woman juga merupakan ‘obat’ bagi DC Comics. Pasalnya kegagalan film-film sebelumnya seperti Batman v Superman Dawn of Justice (2016) dan Suicide Squad (2016) mendapat banyak kritik pedas.

Selain dua judul tersebut, banyak juga film-film DC yang nasibnya babak belur, terutama dari pandangan kritikus, meskipun beberapa diantaranya pendapatan komersialnya lumayan menggemberikan.

Namun, coba saja lihat performa Box office dan review-review Jonah Hex (2010), Green Lantern (2011), Man of Steel (2013), dan dua judul diatas jauh dari kata sempurna, film-film tersebut hanya membuat haters DC Comics bertambah.

Berbeda dengan Marvel yang lebih dulu menemukan formula keberhasilan mereka, DC dan DCEU-nya justru kesulitan menemukan film seperti apa yang nantinya bakal sukses di pasaran

Mungkin masalah-masalah itulah yang kemudian membuat ekspektasi penonton terhadap Wonder Woman sangat tinggi. Terlebih, karena keberanian pihak DC merekrut Patty Jenkins yang tidak disangka akan berbuah manis. Padahal Jenkins sendiri lebih dikenal sebagai sutradara serial televisi ketimbang film layar lebar.

Bahkan, sutradara perempuan itu baru sekali mengarahkan film layar lebar yaitu Monster (2013) yang sekaligus mengantarkan Charlize Theron meraih piala Oscar.

Kepandaian Jenkins dalam mengarahkan film ini patut diacungi dua jempol, karena rasanya berhasil melebihi harapan banyak orang, terutama penggemar superhero DC Comics.

Tidak berhenti di Jenkins saja, akting para pemainnya juga dirasa tidak mengecewakan. Terlebih kepada Gal Gadot yang berani tampil lepas dalam memerankan sosok Wonder Woman atau Diana Prince itu.

Akting Chris Pine juga tak kalah memesona. Chemistry Gadot dan Pine juga terjalin dengan baik. Begitu juga dengan Pemain lainnya, yang dirasa punya porsi peran yang tak kalah penting, termasuk David Thewlis yang perannya menjadi twist tanpa diduga menjelang akhir film.

Perkataan James Cameron Terhadapat Film Wonder Woman

James Cameron. Image: maltafilmcommission.com

Namun semua perkataan itu berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan oleh salah satu sutradara kawakan, James Cameron, dalam sebuah kesempatan sempat berujar bahwa film Wonder Woman versi Jenkins tidak lebih dari film yang dibesarkan-besarkan. Bahkan, James Cameron berani membandingkan sosok Diana dengan Sarah Connor, tokoh sentral di film Terminator (1984-2015).

Sebelumnya, mungkin Cameron mengganggap Gal Gadot yang memerankan Diana hanya mengandalkan kecantikannya untuk memukau para penonton, oleh sebab itu ia berani mengatakan bahwa Sarah Connor terlihat lebih tangguh dan lebih kuat, karena tidak menjadi ikon kecantikan. Sutradara Avatar dan Titanic ini juga menambahkan kalau film Wonder Women merupakan kemunduran dibandingkan dengan film-filmnya.

Pernyataan tersebut terdengar sampai ketelinga sutradara Wonder Woman, Patty Jenkins berpendapat bahwa James Cameron salah mengartikan keberhasilan Wonder Woman yang kesuksesan filmnya menuai banyak pujian.

Dalam tuaian yang ia utarakan lewat akun twitter miliknnya, Jenkins menulis, Wonder Woman tidak hanya menjadi sebuah ikon. Jenkins menilai James Cameron tidak terlalu mengerti dengan karakter Prince Diana/Wonder Woman itu.

“James Cameron tak mengerti lebih dalam tentang siapa dan apa yang dipegang Wonder Woman selama ini. Meskipun dia seorang sutradara yang hebat, tapi dia bukanlah wanita,” tutur Jenkins.

“Wanita yang secara fisik kuat adalah sosok yang hebat. Jika wanita selalu harus ditantang dan melalui banyak cobaan untuk dikatakan kuat, kebebasan tak akan pernah menjadi milik wanita,” lanjutnya.

“Aku meyakini, setiap karakter wanita dapat dan sudah semestinya mampu menjadi apapun seperti yang dilakukan para bintang laki-laki,” imbuh Jenkins.

*Baca juga: Wajib Tahu! 16 Pemutar Video Terbaik Untuk PC dan Android

alterntif text

Kami sendiri menyimpulkan bahwa Wonder Woman merupakan salah satu film terbaik yang dimiliki DC Comics maupun yang diproduksi oleh Warner Bros.

Facebook Comments
Review Wonder Woman, James Cameron: Film yang Dibesar-besarkan
To Top

Subcribe KRITIKUS.id

Masukan alamat email kamu, apabila ingin mendapatkan berita film gratis dari kami. REFRESH untuk lanjut membaca